October 14th, 2018 (Part II)
Kamu tau apa yang aku pikirkan saat aku marah padamu? Atau saat seperti ini? Saat aku merasa takut pada dunia yang tak berpihak pada kita? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul berganti di kepalaku.
Kamu sedang apa? Apa kamu sudah makan? Ibumu memasak apa hari ini? Apa yang kamu lakukan seharian ini saat kau tak datang ke rumahku? Apa kau merindukan aku? Apa kau berpikir aku ini sangatlah egois dan kekanak-kanakan?
Aku juga ingin mengetik pesan untukmu, sekiranya begini :
Hei, apa kau ada waktu? Kurasa sebenarnya kita hanya perlu duduk berdua, berbicara dari hati ke hati. Saling terbuka, mungkin kita juga perlu sedikit bercanda, atau bahkan melempar gurauan satu sama lain.
Atau
Hei, bisakah kesini? Kurasa sebenarnya kita hanya perlu waktu berkualitas berdua saja.
Atau
Hei, aku menyukai Minggu lalu kita. Saat aku memasak untukmu dan kau menghabiskan hampir seluruh makanan, yah walaupun kau kepedasan. Saat kita bermain poker dan aku melihatmu tertawa lepas, aku menyukainya.
Apa kau tahu?
Memikirkan semua itu membuatku sakit, sesuatu seperti menusuk dan membuat mataku pedas, aku ingin menangis tapi kutahan. Pertanyaannya, apa kesalahanku? Apa aku tidak pantas mendapatkan semua ini? Apa keutuhan ini tidak bisa kita nikmati selamanya?
Kau tahu, betapa aku bersyukur memilikimu, aku mulai menyukaimu. Ahhh, seperti ini rasanya mulai membuka hati dengan benar. Seperti ini rasanya mulai menyukai seseorang setelah sekian lama. Seperti ini rasanya.
Komentar
Posting Komentar